IDRUS TINTIN
[ENSIKLOPEDI] Peraih Bintang Budaya Parama Dharma 2011 ini dikenal sebagai pembaharu seni teater Melayu khususnya di Riau. Dalam berkarya, ia sanggup menjadikan hal-hal yang tragedik menjadi komedik. Sejumlah naskah drama, sajak dan puisi yang terangkum dalam berbagai judul buku menjadi bukti kepiawaiannya dalam merangkai kata.
Idrus
Tintin melalui masa kecilnya di zaman pergolakan di saat para pemuda masih
memperjuangkan kemerdekaan. Namun dalam situasi yang serba sulit itu, Idrus
seakan menemukan dunianya sendiri. Pria kelahiran Rengat, Kepulauan Riau, 10
November 1932 ini tenggelam dalam kegiatannya di bidang seni, mulai dari teater
hingga sastra.
Idrus
dibesarkan dalam lingkungan keluarga berdarah asli Melayu Riau. Ayahnya,
Tintin, berasal dari Lubuk Ambacang, Indragiri, sekarang termasuk wilayah
Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Sementara ibunya, Tiamah, berasal dari
Penyimahan dan menetap di Enok Dalam, Melayu Timur, Indragiri, sekarang
termasuk wilayah Indragiri Hilir, Riau.
Ayah
Idrus yang berprofesi sebagai nakhoda awalnya bekerja di Jawatan Pelayaran
Indonesia, baru kemudian dipindahtugaskan ke Laut Cina Selatan, Tarempa,
Kepulauan Riau menakhodai Kapal Patroli Pemerintah. Dengan berbagai
pertimbangan, Tintin memboyong keluarganya untuk menetap di Tarempa. Pada 14
Desember 1941, pasukan Jepang membombardir wilayah Tarempa. Dalam peristiwa
tersebut sekitar 300 orang masyarakat sipil menjadi korban, termasuk ayahanda
Idrus yang kemudian meninggal dunia pada tahun 1942.
Setelah
kepergian ayahnya, Idrus bersama ibu dan ketiga saudaranya pindah ke Rengat. Di
sana ia meneruskan pendidikannya yang sempat terbengkalai akibat perang.
Setamatnya dari Sekolah Rakyat, anak ketiga dari empat bersaudara ini
melanjutkan pendidikannya di Chugakko, namun tidak selesai. Sekitar tahun 1941,
ia dititipkan oleh ibunya di asrama penampungan yatim piatu Dai Toa Kodomo Ryo
milik Pemerintah Jepang. Semenjak tinggal di asrama inilah, Idrus mulai mengenal
dunia drama. Idrus kemudian memulai debutnya sebagai pemain teater setelah
direkrut grup drama pimpinan Raja Khatijah. Bersama seorang rekannya yang
bernama Hasan Basri, Idrus berperan dalam satu pertunjukan drama bahasa Jepang.
Karena
kefasihannya berbahasa Jepang, Idrus diterima bekerja di Sentral Telepon
Pendudukan Jepang. Kemudian di tahun 1943, ia dipindahkan ke asrama Kubota dan
bekerja di Biro Okabutai di Tanjung Pinang selama 5 bulan. Di tengah
kesibukannya bekerja, Idrus masih meluangkan waktunya untuk menggeluti dunia
teater. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatannya dalam pertunjukan drama
pendek yang mengisahkan kehidupan petani dan nelayan yang hidup melarat
berjudul Noserang.
Di
penghujung tahun 1944, Idrus Tintin hijrah ke Tembilahan untuk melanjutkan
pendidikannya di Sekolah Muhammadiyah, yang lagi-lagi tak berhasil
diselesaikannya. Setahun berikutnya, Idrus kembali ke Rengat untuk meneruskan
pendidikan SMP, sambil melanjutkan hobinya bermain teater. Idrus beberapa kali
tampil dalam pementasan bersama grup Seniman Muda Indonesia (SEMI) asuhan Agus,
Moeis dan Hasbullah. Meski sibuk berkesenian, Idrus tetap memperhatikan
pendidikannya. Selain di sekolah formal, ia juga mengikuti kursus di sore hari
untuk program ekstranei hingga lulus. Terakhir, pria yang akrab disapa Derus
oleh keluarga dan kawan-kawannya ini menempuh pendidikan di SMA Sore Tanjung
Pinang.
Saat
masih berumur 16 tahun, tepatnya di bulan Februari 1949, Idrus bergabung
menjadi anggota TNI. Setahun kemudian, ia mulai bertugas sebagai Staf Q Brigade
DD Angkatan Darat di Tanjung Pinang. Namun profesi itu tak lama digelutinya
karena kecintaan Idrus pada dunia seni khususnya teater nampaknya sulit
dilepaskan begitu saja. Pada 1952, Idrus mendirikan sebuah sanggar sandiwara
bernama Gurinda di Tarempa.
Dua
tahun berikutnya, ia mengawali karirnya sebagai pegawai negeri mulai dari juru
tulis hingga berhasil meraih posisi sebagai Kepala Kantor Sosial Kewedanan
Pulau Tujuh. Sayang, baru tiga tahun berdinas, Idrus mulai merasakan kesulitan
membagi waktu antara aktivitasnya di dunia seni dengan pekerjaannya sebagai
pegawai negeri. Idrus akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan pindah ke
Tanjung Pinang. Di kota itu, ia membentuk kelompok teater non formal bersama
Hanafi Harun pada 1958. Kala itu Idrus tampil sebanyak puluhan kali memainkan
naskah buatannya sendiri, yakni Buih dan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah
Makan, serta Awal dan Mira.
Naskah
lain yang pernah ditulis Idrus berjudul Pasien yang kemudian dimainkannya
sekitar tahun 1959 dalam sebuah pertunjukan drama spektakuler di depan Kantor
RRI Tanjung Pinang. Dalam drama yang dibesut Galeb Husein itu, Idrus yang
bertindak sebagai asisten sutradara sekaligus pemeran utama beradu akting
dengan sejumlah aktor pendukung seperti Edi Nur dan Ita Harahap. Drama tersebut
di samping menuai banyak pujian, juga sempat diprotes lantaran dianggap tak
biasa. Sejak kesuksesan drama “Pasien”, Idrus dan kelompok teaternya selalu
diundang untuk mengisi acara yang diadakan pemerintah daerah setempat.
Tak
cukup puas mendulang sukses di tanah kelahirannya, pada tahun 1959, Idrus
merantau ke Pulau Jawa guna menimba ilmu dan memperluas wawasan seputar dunia
seni peran. Saat itulah, ia mulai berkenalan dengan seniman teater ternama
ibukota seperti Asrul Sani, Rendra, B. Jayakesuma, Soekarno M. Noor, Ismet M.
Noor, Teguh Karya, Chairul Umam, dan masih banyak lagi. Pertemuannya dengan
nama-nama besar tadi menjadi awal perkenalan Idrus dengan dunia teater modern.
Tak
cukup puas mendulang sukses di tanah kelahirannya, pada tahun 1959, Idrus
merantau ke Pulau Jawa guna menimba ilmu dan memperluas wawasan seputar dunia
seni peran. Saat itulah, ia mulai berkenalan dengan seniman teater ternama
ibukota seperti Asrul Sani, Rendra, B. Jayakesuma, Soekarno M. Noor, Ismet M.
Noor, Teguh Karya, Chairul Umam, dan masih banyak lagi. Pertemuannya dengan
nama-nama besar tadi menjadi awal perkenalan Idrus dengan dunia teater modern.
Sejak
itu pula, untuk mempertajam kemampuannya, Idrus getol mengikuti berbagai forum
diskusi, terutama yang membicarakan tentang seni peran dan penyutradaraan.
Idrus juga menambah wawasannya dengan belajar teater non formal dengan harapan
bisa masuk ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film Indonesia). Di masa
perantauannya, ia juga sempat bertemu dan berlatih sebuah pementasan teater
dengan judul Kereta Kencana di tempat Motinggo Busye. Dari ibukota,
pengembaraannya kemudian berlanjut ke kota Solo. Di sana ia menimba ilmu teater
pada S. Tossani. Selain itu, Idrus Tintin sempat tampil bermain teater di
Surabaya, tepat di hari ulang tahunnya.
Setelah
sekitar setahun hidup di perantauan, Idrus kembali ke Rengat pada tahun 1960
dan mengakhiri masa bujangnya dengan mempersunting seorang perempuan dari
Indragiri bernama Masani. Setelah menikah, kegiatan Idrus sebagai seniman
teater terus berlanjut, bahkan ia membentuk sebuah kelompok teater di kampung
halamannya. Setiap ada perayaan hari-hari besar, ia hampir tak pernah absen
menunjukkan kebolehannya berakting di panggung teater bersama sejumlah rekan
sesama seniman lainnya seperti Taufik Effendi Aria, Bakri, dan Rusdi Abduh di
Rengat, Tanjung Pinang, Tembilahan. Semua itu dijalaninya hingga tahun 1965,
dan sepanjang periode itu, Idrus banyak mencatat prestasi diantaranya sebagai
Aktor Terbaik pada Festival Drama di Pekanbaru yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Provinsi Riau tahun 1964.
Selanjutnya
di tahun 1966, Idrus memulai debutnya sebagai sutradara sekaligus pemimpin
pertunjukan teater modern berjudul Tanda Silang. Pertunjukan yang digelar di
Gedung Trikora Pekanbaru itu menampilkan M. Rasul, Taufik Effendi Aria, Mami
Soebrantas, dan RP Marpaung. Empat tahun berselang, Idrus hijrah ke Jakarta dan
bekerja di Travel Nusantara Air Center serta menjadi pengasuh rubrik budaya di
Majalah Indonesia Movie. Ia juga membentuk Grup Movies Teater di Gedung
Kesenian Jakarta bersama Alex Zulkarnain. Awal tahun 70-an, Idrus Tintin
meninggalkan semua pekerjaannya di ibukota dan kembali ke Rengat, kemudian
pindah lagi ke Pekanbaru dan bekerja di perusahaan penimbunan pasir.
Tepat
di perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun 1974, Idrus kembali ke dunia teater dan
menyutradarai pertunjukan teater kolosal dengan judul Harimau Tingkis di Balai
Dang Merdu Pekanbaru. Pertunjukan tersebut di bawah koordinator BM Syam dengan
para pemain antara lain Faruq AIwi, Patopoi Menteng, Akhyar dan Yusuf Dang.
Masih di tahun yang sama, bersama Armawai KH, Idrus mendirikan sanggar teater
di Riau dengan nama Teater Bahana.
Selanjutnya,
Idrus kembali berganti pekerjaan. Setelah memutuskan keluar dari perusahaan
penimbunan pasir, ia bekerja sebagai pegawai honor Bagian Humas Kantor Gubernur
Riau sekaligus menjadi pengasuh majalah Gema Riau. Kemudian di tahun 1975,
Idrus Tintin menjadi guru honorer di SMA Negeri 2, Pekanbaru, Riau selama 17
tahun. Idrus membina siswanya berkesenian di sanggar Teater Bahana yang
didirikannya. Setidaknya, grup teater pimpinan Idrus itu tampil sebulan sekali
di Pekanbaru. Selain giat di panggung, Idrus Tintin juga selalu mengikuti pertemuan
ilmiah baik sebagai pembicara, peserta maupun mengadakan pertunjukan teater
monolog.
Demikian
halnya di dunia tulis menulis, kemampuannya sebagai penyair tak disangsikan
lagi. Idrus bahkan dianggap sebagai penulis yang mampu menjadikan hal-hal tragedik
menjadi komedik. Selain naskah teater, Idrus juga menuangkan imajinasinya dalam
bentuk sajak dan puisi yang terangkum dalam berbagai buku yakni Luput, Burung
Waktu, Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan, dan Jelajah Cakrawala.
Meski
demikian, banyak tokoh kesenian berpendapat bahwa Idrus lebih menonjol dengan
keaktorannya dalam dunia teater dibanding kiprahnya sebagai penyair. Sosok
Idrus dinilai berhasil mendobrak dominasi sandiwara tradisional/klasik yang
terkesan eksklusif (menutup diri) terhadap unsur-unsur baru. Berbeda dengan
teater modern atau kontemporer yang penuh kreasi. Inovasi tersebut belakangan
banyak memberikan pengaruh pada para seniman Riau dan sekitarnya. Tak heran,
meski kerap berganti-ganti pekerjaan, kawan-kawannya selalu mengidentikkan
kehidupan Idrus Tintin adalah teater.
Di
usia 71 tahun, tepatnya pada 14 Juli 2003, seniman teater dan penyair ini
meninggal dunia akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua
orang istri, Mahani dan Masani. Jasadnya dikebumikan di pemakaman raja-raja
Rengat, berdekatan dengan Masjid Raya Rengat Indragiri Hulu, Riau.
Meski
telah tiada, rekam jejaknya di dunia seni terus mendapatkan apresiasi dari
berbagai pihak. Pada 8 November 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas
nama pemerintah Indonesia menganugerahkan Idrus Tintin penghargaan Bintang
Budaya Parama Dharma. Penghargaan tertinggi di bidang seni dan budaya itu
diserahkan langsung kepada ahli waris Idrus Tintin yang diwakili putrinya,
Multi Tintin, di Istana Negara. “Kami semua bersyukur atas anugerah ini. Terima
kasih pada pemerintah yang memberikan perhatian atas perjuangan orangtua kami.
Mudah-mudahan anugerah ini bisa dilanjutkan para generasi muda,” ujar Multi
Tintin usai menerima penghargaan seperti dikutip dari situs riaupos.co.id.
Di mata orang-orang yang pernah
mengenalnya, sosok Idrus Tintin dinilai sebagai seorang seniman yang total
mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk berkarya di bidang seni terutama
teater sehingga ia dianggap pantas mendapat penghargaan tersebut. Seperti yang
diungkapkan budayawan Riau yang juga sahabat Idrus semasa masih aktif berkarya,
Dr (HC) Tenas Effendy. ”Secara umum Idrus Tintin menjadi contoh bagi seniman
dan budayawan lain di Riau dari segi kegigihannya dalam berkarya. Ia memang
sahabat dan seniman yang luar biasa. Hingga penghargaan ini memang patut
diraihnya,” ucap Tenas.
Sebelumnya di tahun 1996, jerih payah
dan jasa-jasa Idrus bagi budaya dan kesenian sudah mendapat pengakuan dari
Yayasan Sagang yang memberikannya Anugrah Sagang, sebuah penghargaan seni
paling bergengsi di Riau. Kemudian pada tahun 2001, Dewan Kesenian Riau
menobatkan Idrus Tintin sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) kategori Seni
Teater. muli, red
Data Singkat
Idrus Tintin, Budayawan, pemain teater,
penyair / Seniman Kebanggaan Riau | Ensiklopedi | penyair, Seniman, Budayawan,
Sastrawan, melayu, puisi, teater, sajak
sumber: https://tokoh.id/biografi/1-ensiklopedi/seniman-kebanggaan-riau/

Komentar
Posting Komentar