KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PEKANBARU
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PEKANBARU
Petang Megang
Semua warga muslim di tiap daerah di
Tanah Air tentu memiliki cara sendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Nah,
tradisi Petang Megang merupakan salah satunya. Sebagian masyarakat Kota
Pekanbaru, terutama masyarakat Melayu, mengadakan tradisi ini untuk memanjatkan
rasa syukur dan kebahagiaan mereka karena dapat bertemu kembali dengan bulan
puasa tahun itu.
Petang Megang juga punya istilah lain
yaitu “Petang Belimau” yang artinya mandi air jeruk limau di sore hari. Air
dicampur perasan jeruk limau digunakan untuk mandi sebagai simbol penyucian
jiwa dan raga sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Selain
jeruk limau, buah jeruk yang biasanya digunakan dalam ritual ini adalah jeruk
nipis, jeruk purut, dan jeruk kapas.
Tradisi Petang Megang atau Petang
Belimau ini biasanya dilakukan dalam sebuah arak-arakan warga sekitar, tokoh
agama, pemimpin adat, dan pejabat daerah. Dengan iringan kesenian Kompang atau
alat musik tradisional khas Melayu Riau, arak-arakan pun berjalan menuju lokasi
upacara Petang Megang dilangsungkan.
Ritual ini dimulai dengan berziarah ke
makam para leluhur yang merupakan tokoh agama Riau yang dianggap penting
setelah salat Zuhur berjemaah di Masjid Raya Pekanbaru. Lokasi masjid hanya
sekitar 1km dari tempat tradisi Petang Megang diadakan.
Seusai berziarah, rombongan arak-arakan
pun biasanya kembali ke Masjid Raya Pekanbaru untuk melaksanakan salat Asar
berjemaah. Kemudian, rombongan berjalan menuju Sungai Siak yang merupakan
lokasi puncak upacara Petang Megang.
Di tepi Sungai Siak, prosesi mandi
“belimau” dilakukan pada 10 anak kecil dan remaja. Para tokoh agama dan pejabat
daerahlah yang diberi kehormatan untuk memandikan kesepuluh anak tersebut.
Campuran air dalam bak air mandi tidak hanya perasan jeruk limau, tetapi juga
harum-haruman dari bunga dan daun 7 rupa (seperti serai wangi, daun nilam, dan
mayang pinang).
Berinai Curi
Tradisi Riau yang satu ini sangat unik.
Dilakukan sehari atau dua hari menjelang hari pernikahan sepasang calon
pengantin, peralatan berinai (bahan Pacar Cina atau Henna yang digunakan untuk
melukis kuku dan punggung tangan calon mempelai wanita) harus “dicuri” (diambil
secara diam-diam) dari rumah calon mempelai wanita.
Makna dari ritual ini adalah menolak
bala atau malapetaka bagi sang mempelai wanita dan membuat wajahnya kian
bercahaya saat hari pernikahan tiba. Pemakaian bahan inai pada punggung tangan
dan kaki calon mempelai wanita sendiri tidak hanya untuk mempercantik riasan
pengantin, namun juga dipercaya dapat menjauhkan pengantin dari kemalangan dan
gangguan jin jahat.
Tepuk Tepung Tawar
Tahukah Anda? Ternyata di Riau yang
mayoritas warganya adalah umat Islam pun masih ada tradisi yang merupakan hasil
akulturasi budaya Melayu dengan agama Hindu. Tepuk Tepung Tawar namanya, sebuah
ritual yang dilaksanakan secara simbolis untuk memberikan doa restu. Unik,
bukan?
Pada umumnya, tradisi ini diadakan pada
beberapa hari istimewa, seperti pernikahan, khitanan, dan kelahiran. Prosesinya
sendiri melibatkan kegiatan menaburkan beras tabur (beras kunyit dicampur beras
putih basuh) dan bunga tujuh rupa, seperti melati, mawar, dan bunga rampai.
Maknanya adalah pemberian doa restu dan berkah untuk kelancaran acara utama.



Komentar
Posting Komentar