MASYARAKAT ADAT AUR KUNING: MELESTARIAN IKAN DENGAN LESUNG BATU
MASYARAKAT ADAT AUR KUNING:
MELESTARIAN IKAN DENGAN LESUNG BATU
Setiap Masyarakat Adat pasti memiliki
kearifan lokalnya atau dapat disebut sebagai pengetahuan Masyarakat Adat
(indigenous knowledge). Bangkok Post memberi pemaknaan terhadap kearifan lokal
(local wisdom) dalam bahasa Inggris dengan “local wisdom (noun) - the knowledge
that has been discovered or acquired by local people through long experience”.
Pada dasarnya kearifan lokal itu merupakan pengetahuan Masyarakat Adat secara
turun-temurun yang telah teruji berdasarkan pengalaman panjang.
Sama seperti di Aur Kuning, Kec. Kampar
Kiri Hulu, Kampar, Riau. Masyarakat Adat Kenegerian Aur Kuning memiliki
kearifan lokal yang menjadi adat dan pandandan hidup mereka sehari-hari. Salah
satu kearifan lokal mereka yakni adanya lesung batu.
Lesung batu ini berada di Sungai Biawik
yang bermuara di Sungai Subayang. Lesung batu menyimpan cerita dan tradisi
turun-temurun dan masih dijalankan hingga saat ini.
Sebagaimana namanya, lesung tersebut
terbuat dari batu. Leluhur Masyarakat Adat Aur Kuning memahat batu tersebut
sedemikian rupa hingga tercipta suatu lesung. Hebatnya, pahat yang diyakini
menjadi alat pembuat lesung itu masih ada dan disimpan sampai sekarang.
Lesung ini diletakkan di pinggir sungai
persis di kaki air terjun setinggi dua meter di Sungai Biawik. Lesung juga
diposisikan mendapat aliran air terjun sehingga otomatis terisi air.
Lokasi ini juga merupakan tempat warga
menangkap ikan. Tidak persis dekat dengan pemukiman. Untuk mencapai lokasi
sekitar lesung, warga memerlukan waktu setengah jam naik “robin” dalam
penyebutan setempat (sampan bermotor) atau jalan kaki satu jam.
Sejak dahulu kala, beragam spesies ikan
sudah ada di Sungai Biawik. Ikan-ikan tersebut terdapat di sepanjang sungai
dari hulu hingga hilir. Ikan-ikan terus berkembang biak. Sebagaimana tinggal di
sungai, di tengah arus, ikan-ikan tentu bergerak hilir mudik. Namun, anak-anak
ikan menjadi persoalan ketika terbawa arus.
Saat terbawa arus dan melewati air
terjun tadi, sejak saat itu anak-anak ikan terancam tidak bisa kembali ke hulu.
Selain faktor arus sungai yang deras, paling sulit dielakkan adalah penangkap
ikan. Menjadi soal adalah bagaimana mengendalikan orang yang ingin berburu
ikan.
Untuk itulah, leluhur Masyarakat Adat
Aur Kuning mengambil inisiatif untuk menyelamatkan anak-anak ikan yang melewati
air terjun. Di sinilah mereka memikirkan lesung sebagai jalan keluarnya.
Saat lesung sudah dipenuhi anakan ikan,
Masyarakat Adat Aur Kuning membawa ikan-ikan tersebut kembali ke hulu. Ini
dilakukan seturut musim ikan bertelur yakni sekali setahun.
Penyelamatan ikan ini berangkat dari
pertimbangan leluhur yang tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tapi juga
memikirkan bagaimana anak cucunya kelak bisa menikmati ikan sungai untuk
keberlanjutan hidup keturunannya.
Pemindahan anak-anak ikan ke hulu sungai
juga bermakna agar kehidupan masyrakat bisa bertahan dan juga membantu
kesediaan makanan meraka dalam kehidupan sehari-hari.
Pada dasarnya, masyarakat tidak dilarang
untuk mengambil ikan yang masih kecil, tapi mereka harus mengambil sesuai
kebutuhannya. Kalau masyarakat mengambil berlebihan akan dikenakan sanksi yang
telah dibuat oleh tetua adat dan masyarakat sesuai kesepakatan bersama.
Sungai ini juga merupakan tempat acara
adat Masyarakat Adat Aur Kuning yang dilakukan sekali setahun, yaitu acara
penyemahan lubuk lesung batu dengan memasukkan kepala kerbau ke dalam lubuk
lesung tersebut.
Hal ini sebagai isyarat untuk mengingat
sejarah dan perjuangan leluhur dalam melestarikan ikan dan sungai secara umum.
Sebelum memasukkannya, kami terlebih dahulu berdoa bersama dan sholawat nabi
sebagai ucapan terima kasih pada sang pencipta yang telah menciptakan alam semesta
dan segala isinya.
Intinya, Sungai Biawik adalah sumber
kehidupan bagi Masyarakat Adat Aur kuning. Selain ikan, masyarakat juga bisa
memanfaatkan hasil hutan dan hasil sungai yang masih utuh dan alami.
Jadi siapa pun harus bisa mengendalikan
keserakaan manusia yang hanya memikirkan kesenangan sesaat tanpa menghiraukan
yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Komentar
Posting Komentar