SULTAN MAHMUD RIAYAT SYAH
SULTAN MAHMUD RIAYAT SYAH
Raja Mahmud sejak kecil sudah menampakkan tanda-tanda kelak akan
menjadi orang besar. Apa-apa asuhan emak saudara (bibi)-nya, juga Daeng Kamboja
dan Raja Haji (ayah saudara/pamannya), menjadi penting bagi
pertumbuhkembangannya sehingga mencapai kanak-kanak sampai remaja atau akil
balig. Tentulah kepadanya sudah diberikan berbagai ilmu pengetahuan, khususnya
ilmu agama dan pemerintahan, karena beliau putra seorang sultan (raja) dan
telah pun ditabalkan menjadi Yang Dipertuan Besar, Sultan Kerajaan
Riau-Lingga-Johor-Pahang. Pendidikan agama Islam sudah didapatinya dengan baik
ketika masih kanak-kanak, karena di pusat kerajaan di Hulu Sungai Carang,
Bintan, dilangsungkan pula pendidikan-pendidikan agama Islam oleh guru-guru
agama atau ulama, baik di istana maupun di masjid atau surau.
Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang sebagai kelanjutan dari
Kerajaan Melayu-Islam Melaka. Oleh sebab itu, sudah menjadi keniscayaan bahwa
kerajaan inipun bercorak Islam, yang pendidikan bagi anak-anak sultan. atau
raja-raja dan rakyat sekaliannya ditekankan pada pendidikan bersendikan Islam.
Pendidikan ketauhidan, syariah, dan muamalah diberikan di dalam istana dan
rumah-rumah ibadah berupa langgar, surau, masjid dan rumah wakaf. Sejalan
dengan itu, pendidikan tentang pemerintahan dan ketentaraan pun diberikan pula
karena untuk kelangsungan kedaulatan negeri dari berbagai musuh, khususny;
Belanda. Dengan demikian. tak mengherankan bila setiap sultan atau; raja
mempunyai semangat juang yang membaja, tak tergoyahkan oleh bujuk rayuan pihak
musuh, khususnya Belanda, Pada akhirnya, setiap derap perjuangan dalam
mempertahankan kedaulatan negeri, tiada lain tersebab panggilan berjuang di
jalan Allah, yang dikenal dengan fi sat bilillah, yang pada gilirannya sudah
menjadi pilihan bila akhirnya gugm sebagai syuhada atau syahid fi sabilillah,
Niscayalah pendidikan semacam itulah yang diberi dan ditanam…
kan oleh Yang Dipertuan Muda III Riau Daeng Kamboja dan Kelam Raja Haji kepada
Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah sewaktu kanak-kanak sehingga
akil balig, Kala itu, Yang Dipertuan Muda dan Kelana Raja Haji telahpun pula
mencontohkan langsung kepada Baginda Sultan yang masih belia itu bagaimana
memimpin dan mengelola pemerintahan demi kemajuan, kemakmuran, dan kejayaan
kerajaan (negeri dan masyarakat). Terlebih lagi, marwah negen’ dan pemerintahan
mesti ditegakkan meskipun dengan taruhan jiwa dan raga. Berhadapan dengan musuh
kerajaan, terutama Belanda, tiada ubahnya berhadapan dengan musuh Allah
sehingga tak akan pernah ada kata kompromi, apalagi mau ditaklukkan. Sikap dan
kata yang pasti hanya satu, berjuang sebagai perlawanan dengan niat di jalan
Allah, ]? sabilillah. ltulah ajaran dan didikan yang memang telah melembaga di
kalangan adat-istiadat Diraja Melayu-Islam.
Kepribadian Sultan Mahmud Ri’ayat Syah tentulah amat berbeda dan
jauh lebih maju, matang, mahir (piawai), dan hebat (tangguh) bila dibandingkan
dengan sultan-sultan dalam kerajaan Riau-Linggau labor-Pahang sebelumnya.
Baginda sejak kecil (kanak-kanak) lagi sue dah berkedudukan sebagai Yang
Dipertauan Besar Sultan )ohorwkiau’ Lingga-Pahang. Pendidikannya diberikan
langsung oleh Yang Dipertan Muda III Riau Daeng Kamboja, Kelana Raja Haji, dan
pembesar-pemba sar kerajaan lainnya seperti Datuk Bendahara, Temenggung, dan
Indra Bungsu. Di samping itu, tentulah Baginda juga dididik oleh sejumlah
cerdik-pandai atau ulama dalam perkara agama Islam. Kepribadiannyapula mendapat
tempaan dari beberapa ibunda saudaranya, yang teru-» tama Engku Hitam, saudara kandung
ibundanya yang telah mangkat.
Berlangsungnya pendidikan dalam segala bidang di dalam istana
sudah menjadi kelaziman di dalam kerajaan-kerajaan Islam Nusantara ketika itu.
Karena penguasa-penguasa atau pembesar-pembesar kerajaan menjadi peneraju penting
dalam penyebaran dan pengembangan Islam, tak terkecuali pendidikannya, Islam
menjadi agama yang sepenuhnya diyakini dan diamalkan oleh segenap rakyat
kerajaan. Peran dan pengaruh penguasa menjadi sangat penting dan dominan di
dalam syiar Islam tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Ensiklopedi Islam (2)
peran penguasa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sangat besar dalam
penyebaran agama Islam. Sejak abad ke-17 dapat dikatakan bahwa Islam telah
menyebar ke seluruh penjuru Nusantara melalui berbagai salud ran seperti
perdagangan, perkawinan, birokrasi pemerintahan, pendidikan (pesantren), mistik
cabang-cabang seni, dan lain-lain. (Dasuki, 1994:215-216).
Dengan kata lain, pendidikan yang berlangsung bagi anak-anak
bangsawan dalam kerajaan Islam terutama berlangsung di istana dan di langgar.
Pengajaran di langgar merupakan pengajaran agama permulaan. Anak-anak dididik
pada awalnya mempelajari abjad Arab, kemudian mengeja ayat-ayat Al-Quran.
Berbagai pengetahuan dasar agama diajarkan pula, terutama tentang ibadah dan
akhlak. Langgar bukan pula hanya sebagai tempat pendidikan agama, melainkan
sekaligus sebagai lembaga sosial yang memiliki peranan penting di dalam
membentuk karakter dan kepribadian anak-anak. Rasa kebersamaan dan kesetiaan
akhirnya menjadi terpupuk dan tumbuh di antara anak-anak, yang lambat laun
menyadari bahwa mereka telah menjadi anggota kebersamaan (kelompok) yang besar,
yakni Islam.
Bila demikian halnya, menjadi jelaslah bahwa pendidikan yang
didapati Sultan Mahmud Riayat Syah, niscayalah terutama dari lingkungan istana.
Kerajaan Riau-Lingga-johor-Pahang adalah satu di antara kerajaan yang besar di
Nusantara, sebagai kerajaan yang melekat de» ngan adat-istadat Melayu. Apabila
Islam telah menjadi agama kerajaan dan segenap rakyatnya, maka kerajaan telah
mengambil Islam sebagai agama yang mematrikan sendi-sendi Melayu dengan Islam
sebagai satu dan kesatuan. Oleh karena itu sudah barang tentu menjadi wujud
ajaran Islam di dalam pelaksanaan pemerintahan dan demikianlah pula di dalam
pendidikannya. Niscayalah Daeng Kamboja, Raja Haji, dan para ibundanya sudah
melatih Sultan Mahmud Ri’ayat Syah untuk me. lakukan berbagai perkara bagi
dirinya secara pribadi, pemerintahan, ekonomi, perperangan, dan sebagainya. Di
dalam keluarga, pelatihan itu penting sehingga ketika anak telah dewasa dia
akan berbuat orba» gaimana patutnya. Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Betar
menegas. kan, yang menekankan sangat mustahaknya pelatihan bagi anak anak,
Apabila anak tidak dilatih/[ika besar bapanya letih. Tak ada keraguan bahwa
Mahmud sudah dididik dengan pendidikan umum dan agama Islam dan sudah pula
dilatih dengan sebaik-baiknya, terutama oleh Daeng Kamboja dan Raja Haji
sehingga pantaslah akhirnya Baginda menjadi sultan terbesar dan sukses di
antara jajaran sultan Kerajaan Melayu Bintan, Melaka, hingga Riau-Lingga.
Berkenaan dengan penjelasan di atas dapat dikaitkan dengan pen.
dapat Parsudi Suparlan dan S. Budhisantoso dalam Masyarakat Melayu Riau dan
Kebudayaannya yang membedakan orang Melayu dari golongan-golongan penduduk
lainnya di nusantara, terutama di masa lampau, adalah pola kehidupannya yang
berorientasi kepada kelautan, agama Islam sebagai pedoman utama dalam kehidupan
mereka, dan kelonggaran dalam strukturstruktur sosialnya. Karena orientasi
kehidupan mereka dan karena kedudukan komunitas-komunitas mereka di pantai yang
merupakan daerah terdepan dari berbagai kontak hubun’ gan dengan dunia luar,
orang Melayu itu pula yang sebenarnya paling awal mengenal agama Islam. Oleh
karena itu, ajarannjaran agama lslam dapat meresap dalam tradisi-tradisi yang
berlaku dan menyelir muti berbagai upcara-upacara dan tindakanctlndakan
simbolik yang pada dasarnya bukan Islam. Kedudukan mereka yang berada digaris
terdepan dalam berbagai kontak kebudayaan dengan dunia luar yang berlangsung
secara terus-menerus, termasuk kontakokontak dengan dunia Islam, mempermudah
penyebaran agama Islam dalam kehidupan orang Melayu. (Budisantoso, dkk.,
1996A}.
Bagi Sultan Mahmud Ri’ayat Syah, niscayalah sejarah panjang Keme
jaan Riau-Lingga-lohor-Pahang sejak Kerajaan Bintan, Temasik, lain Melaka,
kemudian di Bintan, ke Kampar, dan di labor, menjadi hamil penting bagi
mata hati dan pikirannya.Bagaimana pasang-surut, turunnaik, jatuh-bangun
kerajaan Melayu ini akibat terjadinya sengketa, perebutan kekuasaan, dan perang
saudara di antara anak-anak atau keturunan raja dan perperangan dengan Portugis
dan Belanda, telah memberi pemahaman yang mendalam bagi pikiran, sikap, dan
tindakan Mahmud sebagai Yang Dipertuan Besar Sultan Kerajaan Riau-Lingga-Iohor-Pahang.
Demikianlah pula perihal acapkali muncul atau terjadinya
perselisihan, silang-sengketa, yang menyangkut perkara kekuasaan dan hartabenda
antara pihak Melayu dengan pihak Bugis dan puak-puak lainnya di dalam kerajaan,
menjadi tempaan dan pemikiran tersendiri pula oleh Sultan Mahmud. Mentelah
lagi, perkara kepicikan Belanda terhadap lawan-lawannya senantiasa
mengiming-imingi dengan berbagai janji dan melakukan perjanjian, tetapi
senantiasa tiada ditepati oleh Belanda. Beliau akhirnya menjadi paham benar
tentang akal bulus, niat busuk, dan siasat licik Belnda. Beliau niscayalah
mempunyai pemikiran dan sikap untuk mengambil kebijakan dan tindakan agar
perkara-perkara yang tiada patut dan dapat merusak kedaulatan negeri itu dapat
diakhiri dan berjalan dengan penuh persaudaraan, kekeluargaan, damai, dan
tenteram. Kelak Sultan Mahmud Ri’ayat Syah pun mengukuhkan kembali perjanjian
atau Sumpah Setia Melayu-Bugis dan memberi taman-laman hidup dan kehidupan
kepada berbagai puak, antara lain orang Cina, di dalam Riau dan daerah
takluknya. Menjadi jelaslah pula bahwa beliau telah berjasa besar dan luar
biasa kepada bangsa di dalam pembauran dan perbauran kebangsaan.

Komentar
Posting Komentar