PETERAKNA

 

PETERAKNA




Dalam sejarah Kerajaan Lingga-Riau yang berpusat di Lingga, tempat raja duduk di atas singgasana kerajaan disebut dengan peterakna. Dalam adat istiadat Kerajaan Lingga-Riau tentang “Istiadat Bekerja Besar Bertabal. Kahwin” tentang petirakna pada pasal yang kedua dinyatakan:

 

Adapun balairung seri pun dihiasi juga dan disampul kuning, sekalian tiangnya digantung tirai dan langit-langit. Adalah pada serinya, digantung tabir bergulung, dan ditaruh singgahsana berkain sampai , berdaun budikan emas; di atasnya ditaruh peterakna; dibelakangnya ditaruh bantal seraga. Di atas peterakna itulah tempat raja yang akan dijunjung duli, adanya. (Samad Ahmad, 1985:52)

 

Peterakna bukan saja tempat duduk raja di atas singgasana, tetapi dijadikan juga sebagai tempat duduk pengantin bersanding dari kalangan keluarga kerajaan Lingga-Riau. Dalam Istiadat Bekerja Besar Bertabal, Kahwin, tentang tertib pengantin bersatu atau bersanding dinyatakan, “Tatkala pengantin sudah naik ke peterakna, lalulah santap nasi hadap-hadapan. Selesai daripada nasi hadap-hadapan, persilakan raja atau sultan mencucurkan ‘panca bicara’, dengan didahulukan pengantin perempuan (Samad Ahmad, 1985:61).

 

Dalam tradisi adat istiadat pengantin Melayu Lingga, peterakna masih dipakai sebagai tempat duduk pengantin bersanding. Peterakna sebagai tempat duduk pengantin bersanding bermakna tempat duduk kebesaran dan keagungan pengantin. Pengantin umpama raja sehari yang diagung dan dimuliakan.  Di atas peterakna digunakan juga sebagai tempat pengantin ditepuk tepung tawar setelah melaksanakan akad nikah. Peterakna dibuat mulai satu hingga tiga tingkat. Untuk orang-orang dari keturunan bangsawan menggunakan tingkat tiga.

 

Di atas peterakne di kiri kanan diletak satu bantal gaduk, yang di atasnya terdapat satu bantal seraga. Bantal gaduk dan seraga bertekat dengan perada di sisi yang menghadap ke luar pelamin. Di atas peterakna diletak juga bantal sesuari sebagai alas pengantik untuk bertepuk tepung tawar. Bagian sisi tangga yang menghadap ke luar peterakna dipasang ulas yang bertekat dengan perada.

 

Di hadapan peterakna diletakkan meja persegi panjang untuk meletakkan berbagai barang adat istiadat untuk pengantin bersanding. Barang-barang yang diletakkan di atas meja yakni:

1.     Nasi besar atau Nasi skone,

2.     Nasi Adap

3.     Dua batang lilin di atas kakidian

4.     Satu terenang tempat air

5.     Tepak sirih

6.     Sirih nikah disusun di dalam senjong besar

7.     Sirih puan disusun di dalam senjong kecil

8.     Satu embat-embat yang berisikan air mawar

9.     Satu ketor beralas sanggan atau piring tembaga

10.   Peralatan tepuk tepung tawar dan inai di dalam mangkok tembaga yang diletakkan di atas semberip

11.   Satu sangku berisi air untuk cuci tangan beralas ceper tembaga kecil

12.  Peterakna mulai dipakai pengantin untuk mengadakan adat istiadat tepuk tepung tawar dan berinai besar setelah mengadakan akad nikah. Setelah akad nikah dilaksanakan, dimulai adat istiadat bertepuk tepung tawar dan berinai besar. Pengantin laki-laki diarahkan oleh Mak Inang untuk duduk di atas peterakna. Pengantin duduk di atas peterakna dengan cara bersila, dan diatas kedua pahanya di letakkan bantal sesuari sebagai alas tangan pengantin. Setelah pengantin duduk, diadakan tari inai persembahan dan penghormatan oleh satu penari yang diringi musik gendang dan gong. Selanjutnya diadakan tepuk tepung tawar dan mencolet sedikit inai di tapak tangan pengantin oleh orang tertentu sesuai adat istiadat. Pengantin laki-laki yang telah selesai melaksanakan tepuk tepung tawar diarahkan Mak Inang untuk turun dan duduk disamping peterakna. Selanjutnya Mak Inang mengarahkan pengantin wanita dari dalam kamar untuk naik ke atas peterakna duduk bersimpuh untuk ditepuk tepung tawar seperti yang telah dilakukan oleh pengantin laki-laki.

 

Peterakna dijadikan sebagai peralatan utama pengantin di saat adat istiadat bersanding. Dalam adat istiadat bersanding, pengantin wanita terlebih dahulu naik di atas peterakna dengan duduk bersimpuh sesuai dengan arahan Mak Inang untuk menunggu ketibaan pengantin laki-laki. Wajah pengantin wanita dihalangi oleh Mak Inang dengan satu kipas sehingga tidak keliatan orang berada dihadapan peterakna. Setibanya pengantin laki-laki, disambut tali lawe, yakni pihak pengantin laki-laki perlu memberikan sejumlah uang kepada pihak pengantin wanita agar dapat naik atas peterakna untuk bersanding. Selanjutnya disambut dengan silat persembahan yang diringi dengan musik gendang dan gong.

 

        Sebelum naik di atas peterakna perlu mengadakan tebus kipas yang dipegang Mak Inang menghalangi wajah pengantin wanita. Tebus kipas yakni pihak pengantin laki-laki akan memberikan sejumlah uang kepada Mak Inang agar kipas tidak lagi menghalangi wajah pengantin wanita. Tebus kipas dimulai dengan berbalas pantun dari pihak wakil pengantin laki-laki dengan pengantin wanita. Setelah uang tebus kipas diberikan, Mak Inang mengambil sirih lelat dan membuka kipas lalu mempersilakan pengantin laki-laki duduk bersila di atas peterakna di samping pengantin wanita.

 

       Pengantin yang bersanding di atas peterakna dikipas oleh dua orang wanita dikiri kanan.  Selanjutnya pengantin sesuai dengan arahan Mak Inang mengadakan adat istiadat makan bersua-suapan. Setelah acara selesai di adakan doa selamat dan tolak bala oleh seroang pemimpin doa. Di saat pengantin bersanding di atas peterakna, berdatanganlah tamu-tamu undangan atau jemputan untuk merayakan adat istiadat pernikahan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Para tamu yang datang dihidangkan berbagai makanan oleh tuan rumah. Setelah para tamu menyantap hidangan, selanjutnya memberikan ucapan selamat bersalam-salaman kepada kedua mempelai dan sanak keluargnya. Dalam adat istiadat bersanding diringi pula musik atau nyanyian menghibur para tamu undangan sebagai ungkapan suka cita dan memeriahkan acara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IKAN GULAI BAUNG KUNING

SISTEM KESENIAN SUKU TALANG MAMAK

PAKAIAN ADAT INDRAGIRI HULU