SULTAN SYARIEF QASIM II
SULTAN SYARIEF QASIM II
Sultan Assyaidis
Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin atau yang dikenal dengan Sultan
Syarif Kasim II merupakan sultan yang terakhir atau sultan yang ke-12 Kerajaan
Siak. Sultan Syarif Kasim II dilahirkan di Siak pada tanggal 1 Desember 1893,
Syarif merupakan anak dari Sultan Syarif Hasyim I yang merupakan sultan ke 11
Kerajaan Siak hasil pernikahan dengan permaisuri Tengku Yuk. Setelah ayahnya,
Sultan Assyaidin Hasyim I Abdul Jalil Syaifuddin wafat pada 1908, Syarif Kasim
II dinobatkan sebagai sultan ketika usianya masih 16 tahun, Namun, karena belum
cukup umur dan tengah menempuh pendidikan di Batavia, Syarif Kasim II
dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Siak Indrapura pada 13 Maret 1915 dengan
gelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin, Dia
memimpin selama 30 tahun, yakni dari tahun 1915 sampai 1945.
Sultan Syarif
Kasim II amat menyadari pentingnya pendidikan sebagai tonggak bagi
perubahan suatu kaum, mencoba mencerdaskan rakyatnya dengan mendirikan
sekolah-sekolah di Siak. Putra-putri Siak yang cerdas dan berprestasi, mendapat
beasiswa untuk menempuh pendidikan ke Medan dan Batavia. Di bawah kepemimpinan
Sultan Syarif Kasim II, Siak menjadi ancaman bagi Pemerintah Hindia Belanda.
Soalnya dia secara terang-terangan menunjukkan penentangannya terhadap
penjajahan. Dengan lantangnya Syarif Kasim II menolak Sri Ratu Belanda sebagai
pemimpin tertinggi para Raja di Kepulauan Nusantara, termasuk Siak. Sultan
Syarif Kasim tidak hanya menyayangi rakyatnya dengan kata dan ungkapan, tetapi
juga dengan mencerdaskannya lewat penyediaan sekolah. Syarif Kasim mendukung
perjuangan lewat seruan di istana, tapi juga hadir dalam kancah perjuangan
dengan bantuan yang konkrit, Sultan Syarif Kasim II dihormati orang tidak hanya
karena kedudukan sebagai raja, tetapi karena satunya kata dengan perbuatan.
Beliau tidak hanya mendukung NKRI dengan maklumat dan pernyataan politik saja,
tetapi juga dengan menyumbangkan harta miliknya dalam jumlah sangat besar
kepada negara.
Untuk menjatuhkan
Sultan Siak Belanda melenyapkan hubungan formal rakyat dengan Sultannya yaitu
dengan membuat sultan kehilangan kekuatan dan pendukung dari datuk-datuk dan
ketua suku sebagai rakyat yang setia dan taat patuh dengan Sultan serta
Kerajaannya, karena Belanda sangat paham sekali bahwa suku dan induk yang
berada di bawah Sultan sekitar 211 orang yang mempunyai pengikut-pengikut yang
setia kepada kepala suku serta menjunjung tinggi perintah Sultan sebagai
pimpinan Negerinya. Dengan disederhanakannya struktur pemerintahan maka sultan
hanya diwakili oleh 5 kepala distrik dan 14 onder distrik yang membuat Sultan
mudah menguasai dan memerintah negeri Siak inilah yang di inginkan oleh Belanda
sehingga pemerintah Belanda bisa dengan mudah menguasai kerajaan Siak serta
bisa dengan mudah mengambil hasil kekayaan di bumi Siak.
Dengan dihapusnya
dewan kerajaan Belanda berharap akan mudah untuk menguasai atau mengendalikan
Sultan Siak serta dengan mudah bisa diajak berunding, tetapi Sultan Syarif Kaim
tetap menghendaki dan mempertahankan adanya kerapatan tinggi dari kerajaan Siak
yang merupakan tempat bermusyawarah berunding dengan resmi dengan datuk-datuk
dan orang-orang besar kerajaan yang menjadi keparcayaannya, yaitu badan
peradilan yang menangani masalah Syariah Agama Islam. Badan ini di anggap
Belanda dapat menambah kewibawaan Sultan maka sebab itu Belanda berusaha
menghapuskannya tetapi Sultan Syarif Kasim dengan gigih mempertahankannya, dan
pada akhirnya Badan ini berhasil di pertahankan, dan ini merupakan sebuah
kemenagan bagi Sultan Syarif Kasim dengan dapat mempertahankan lembaga yang
telah di tetapkan oleh ayahandanya. Walaupun lembaga ini disetujui oleh Belanda
tetapi setiap di adakannya persidangan harus dihadiri sendiri oleh pemerintah
Belanda. Selain igin menguasai pemerintahan Kesultanan Siak Belanda juga
berusaha untuk menguasai sumber daya alam kerajaan Siak yang kaya akan berbagai
hasil hutan.
Banyak kebijakan
pemerintahan Belanda yang mendapat tantangan dari Kesultanan Siak, seperti
pelaksaan rodi bagi rakyatnya pada tahun 1916 yang bekerja pada Belanda tetapi
tidak mendapatkan upah, sehingga menguras tenaga dan menambah kemiskinan,
penolakan ini cukup menimbulkan ketegangan antara pemerintah Belanda dengan
Sultan Siak. Belanda terus memaksakan kehendaknya tetapi dengan diam-diam
Sultan mengadakan hubungan dengan kepala suku untuk menentang kehendak Belanda,
sehingga terjadi pemberontakan rakyat yang pertama melawan Belanda pada
Desember 1931 di Pulau Merbau yang dipimpin oleh Koyan menyerang polisi Belanda
serta membunuh Patroli polisi Belanda. Pemberontakan ini membuat Belanda marah
mereka menganggap pemberontakan itu sebagai sebuah penghinaan dan pelecehan
serta menurunkan wibawa pemerintahan Belanda di kawasan Kerajaan Siak, dan
pemerintahan Belanda pun mengirimkan pasukan tetapi tidak berhasil menghentikan
pemberontakan tersebut sehingga akhirnya karena marah pasukan Belanda membakar
rumah-rumah rakyatdi Selat Akar tersebut. Dengan adanya pemberontakan ini
Sultan Siak memandang bahwasanya kekuatan fisik haruslah diimbangi dengan
kekuatan pembinaan mental dan pendidikan rakyat. Untuk itu sejak Sultan Syarif
Kasim dinobatkan menjadi Sultan di kerajaan Siak beliau sudah mulai membangun
sekolah untuk rakyatnya dan pada tahun 1929 sampai dengan tahun 1939 sultan
memberikan beasiswa kepada anak-anak negeri yang berbakat, bahkan sampai
dikirim belajar ke Batavia, Medan, dan Bukittinggi.
Sejak
kedatangan Jepang ke Siak yaitu melalui Bukittinggi menuju Pekanbaru
hingga sampai ke Siak, Sultan Syarif Kasim tidak ada rasa ragu dalam
menghadapi Jepang karena semenjak dari ayahandanya Sultan Syarif Kasim sudah
ada hubungan dengan pengusaha Jepang tentang penanam Industri karet di Siak Sri
Indrapura. Jepang mengetahui bahwasanya Sultan Syarif Kasim adalah Sultan yang
tidak sepaham dengan pemerintahan Belanda, hal ini yang diperhatikan oleh
Jepang pada Kerajaan Siak sehingga kedatangan Jepang menjadi sahabat, dan
Jepang menganggap Kerajaan Siak adalah sahabat dan bekerja sama untuk mengusir
Belanda. Tetapi setelah Jepang berkuasa di Siak tentara Jepang bertindak
sewenang-wenang kepada rakyat, sehingga terjadi pemberontakan rakyat Sakai yang
di pimpin Sekodai yang membuat Jepang marah dan mengancam Sultan menyelesaikan
masalah pemberontakan Sikodai, Sultan pun mengutus orang kaya Mohamad Jamil
bersama Datuk Arifin untuk membujuk dan menangkap Sikodai di pedalaman Balai
Pungut, setelah Sikodai ditemukan dikediamannya du hulu sungai Balai Pungut dan
dikatakan bahwa Sultan Syarif Kasim ingin bertemu dengannya dengan lapang hati
yang lapang Sikodai mengikut saja, setelah bertemu dengan Sultan dia ditahan
beberapa bulan kemudian keluar karena dia dapat memperdaya pimpinan Jepang dia
mengatakan bahwa di hutan Balai Pungut masih banyak orang Belanda,
mereka bersama sama masuk hutan rimba itu kemudian Sikodai pun menghilang dan
tidak dapat di temukan lagi oleh tentara Jepang hingga tersiar kabar bahwa
Hirosima dan Nagasaki di bom oleh Amerika dan akhirnya Jepang pun pulang ke
Negerinya.
Riau di bawah
Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim II. Ketika Jepang
kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan:
1. berdiri
sendiri seperti dahulu,
2. bergabung
dengan Belanda,
3. bergabung
dengan Republik
Sultan sebagai sosok yg wara' dan keramat
melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg
Republik Indonesia karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan
kalau sekedar dikuasai sendiri. Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg
Republik Mendukung NKRI bukan menyerahkan diri. Sultan menurunkan modal 13 juta
Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama sama dengan para
komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai
Kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa daerah-daerah yg
termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pada jaman pendudukan Belanda di
nusantara. Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia,
beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian
beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan
Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar
Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di
Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan meninggal di Rumbai pada
tahun 1968. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama
Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997
Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang
Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak
ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid
Syahabuddin.

Komentar
Posting Komentar