TRADISI AYUN BUDAK

 

TRADISI AYUN BUDAK

Kota Dumai merupakan kota dengan masyarakat yang memiliki berbagai suku didalamnya. Hanya saja masyarakat melayu disana masih menjaga nilai tradisi dan upacara tradisional yang mereka miliki. Hal ini terbukti dengan banyaknya keluarga bersuku melayu yang masih menjalani tahap-tahap didalam tradisi pada upacara adat perkawinan seperti menilik, musyawarah keluarga, merisik atau menjarum-jarum, meminang, antar tanda pertunangan, upacara antar belanja, dan sebagainya (Suwardi, 2007: 637-658). Selain itu, masyarakat melayu disana juga masih menjalani tradisi ayun budak yang penuh dengan makna dan religius.

Tradisi ayun budak merupakan tradisi yang dapat dilakukan sewaktuwaktu ketika orang tua akan menidurkan anak dalam sebuah ayunan yang diiringi dengan lagu-lagu yang berisi nasihat, petuah dan doa yang juga merupakan kebiasaan orang tua kepada si anak setiap ia menangis dan mau tidur. Oleh karena itu, mereka selalu menggendong bayinya kemanapun mereka pergi dengan menggunakan selendang (Jackson, 2008:208). Sekarini (2008:12) juga mengemukakan bahwa dengan di ayun-ayun, bayi akan merasa tenang, merasa aman, membuat dirinya bahagia, dan membantu perkembangan fisiknya.



Tradisi ayun budak di Kota Dumai ini merupakan salah satu tradisi yang masih dijaga nilai kelestariannya secara turun temurun. Peristiwa timbulnya tradisi tersebut semakin diterima oleh masyarakat sehingga pelaksanaannya pada zaman sekarang sebagai sarana penyampaian hajat, membayar hutang nazar, pengobatan, kekerabatan antara orang tua dan anak dan dapat mempererat silahturahmi antara tuan rumah dan masyarakat. Selain itu, tradisi ayun budak ini juga mengandung kearifan lokal yang bertujuan untuk memperkuat jati diri suatu suku bangsa yang dapat direfleksikan untuk memantapkan budaya nasional. Kearifan local merupakan kecerdasan manusia yang diciptakan oleh sekelompok manusia dalam kelompok sosial yang mempunyai kebudayaan dan mempunyai kedudukan tertentu karena keturunan, agama, adat, dan bahasa yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya secara terwujud dalam ciri-ciri budaya yang dimilikinya dan diperoleh dari proses belajar yang dilakukannya dalam selama perjalanan yang menciptakan pengalaman hidup (Rahyono, 2009:7-8). Nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diambil dari syair ayun budak tersebut sangat kental dengan pesan moral bagi anak, sehingga pesan-pesan moral tersebut dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter. Hal itulah yang mendasari mengapa tradisi ini dianggap penting oleh masyarakat sekitar lalu diangkat menjadi sebuah rangkaian acara ayun budak.

Acara ayun budak seringkali mengiringi acara aqiqah anak yang baru lahir sehingga kegiatan mencukur rambut bayi, dan menepung tawari bayi bersama kedua orang tuanya selalu mengawali acara ini, namun tanpa adanya aqiqah acara ayun budak tetap dapat berlangsung, dan tetap diawali dengan mencukur rambut bayi dan menepung tawari bayi. Kemudian, barulah sang bayi ditaruh di dalam buaian dan ditimang bersama-sama dengan lantunan lagu yang lembut dan merdu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IKAN GULAI BAUNG KUNING

SISTEM KESENIAN SUKU TALANG MAMAK

PAKAIAN ADAT INDRAGIRI HULU