Wisata Pacu Jalur Kabupaten Kuantan singingi
Wisata Pacu Jalur Kabupaten Kuantan singingi
Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan
mendayung di sungai dengan menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari
kayu pohon. Panjang perahu ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan lebar
bagian tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m, dalam bahasa penduduk setempat,
kata Jalur berarti Perahu. Pacu jalur biasanya
dilakukan di Sungai Batang Kuantan. Hal ini tak lepas dari catatan
panjang sejarah, Sungai Batang Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan
Cerenti di
hilir, telah digunakan sebagai jalur pelayaran jalur sejak awal abad ke-17.
Dan, di sungai ini pulalah perlombaan pacu jalur pertama kali dilakukan.
Sedangkan, arena lomba pacu jalur bentuknya mengikuti aliran Sungai Batang Kuantan, dengan panjang lintasan sekitar
1 km yang ditandai dengan enam tiang pancang.
Sejarah Pacu Jalur
berawal abad ke-17, di mana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa
di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak
antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu
hingga Kecamatan Cerenti. Jalur ini benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting
bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang
dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang. Pada masa
penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri
rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh
pada tanggal 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Belanda di mulai pada
tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut
dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.[3]
Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi
ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian
lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung,
tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai
(tempat juru mudi berdiri).
Perubahan tersebut sekaligus menandai
perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga
menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk
saja yang mengendarai jalur berhias itu. Baru pada 100 tahun kemudian, warga
melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik,
yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar jalur yang hingga saat
ini dikenal dengan nama Pacu Jalur. Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di
kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar
Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk
memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dapat digambarkan saat hari
berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas di mana-mana, dan masyarakat yang ada
diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan
acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari
100. Menurut masyarakat setempat jalur adalah 'perahu besar' terbuat dari kayu
bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu )
Proses Pembuatan Jalur :
1.
Untuk menyusun rencana
kerja pertama-tama diselenggarakan musyawarah atau rapek kampung yang dihadiri
oleh berbagai unsur seperti pemuka adat, cendekiawan, kaum ibu dan pemuda,
dipimpin oleh seorang pemuka desa, biasanya pemuka adat. Bila disepakati untuk
membuat jalur, lalu ditentukan langkah lebih lanjut.
2.
Memilih kayu. Kayu
yang dicari itu harus memenuhi persyaratan kualitas (jenis), ukuran dan
lain-lain, terutama bobot magis atau spi¬ritualnya. Jenis kayu yang dipilih
adalah kayu banio, kulim kuyiang atau yang lain, harus lurus panjangnya sekitar
25-30 meter, garis te-ngah 1-2 meter dan mempunyai mambang (sejenis makhluk
halus). Harus dipertimbangkan agar setelah menjadi jalur dapat mendukung anak
pacu 40-80 orang. Dalam acara pemilihan kayu ini peranan pawang sangat penting.
Sesudah pilihan ditentukan dibuatlah upacara semah agar kayu itu tidak
"hilang" secara gaib.
3.
Menebang kayu. Kayu
yang sudah disemah oleh pawang lain ditobang dengan alat kapak dan beliung.
Dahan dan ranting dipisahkan.
4.
Memotong ujung. Kayu
yang sudah bersih diabung (dipotong) ujungnya menurut ukuran tertentu sesuai
dengan panjang jalur yang akan dibuat kemudian kulit kayu dikupas, diukur
dibagi atas bagian haluan, telinga, lambung, dan kemudian dengan alat benang.
5.
Pendadan atau
meratakan bagian depan (dada) yakni bagian atas kayu yang memanjang dari
pangkal sampai ke ujung.
6.
Mencaruk, atau
mengeruk, melubangi bagian dalam kayu yang panjang itu dengan ketebalan yang
seimbang.
7.
Menggiling atau
memperhalus bagian samping atas sehingga terbentuk bagian bibir perahu
sekaligus mulai membentuk bagian luar bagian atas.
8.
Manggaliak atau
membalikkan dan menelungkupkan, yang tadinya terletak diatas ganti berada di
bawah sehingga bagian luar dapat dikenakan, dirampingkan dengan leluasa.
Pekerjaan ini memerlukan perhitungan cermat sebab harus selalu menjaga
keseimbangan kete¬balan semua bagian jalur. Cara mengukurnya antara lain dengan
membuat lubang-lubang kakok atau bor yang kemudian ditutup lagi dengan semacam
pasak.
9.
Manggaliak atau
menelentangkan lagi.
10.
Membentuk haluan dan
kemudi.
11.
Menghela atau menarik
jalur yang sudah setengah jadi itu ke kam¬pung disertai upacara maelo jalur.
Disini kegotongroyongan sangat besar artinya.
12.
Menghaluskan, mengukir
terus dinaikkan ke atas ram Account pian lalu diasapi.
13.
Penurunan jalur ke
sungai, selesailah proses pembuatan perahu yang ditutup dengan upacara pula.
Perlombaan Pacu Jalur Taluk Kuantan memakai
penilaian sistem gugur. Sehingga peserta yang kalah tidak boleh
turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan diadu kembali untuk
mendapatkan pemenang utama. Selain itu juga menggunakan sistem setengah
kompetisi. Di mana setiap regu akan bermain beberapa kali, dan regu yang
selalu menang hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya. Perlombaan
meriah ini dimulai dengan tanda yang cukup unik, yaitu dengan membunyikan
meriam sebanyak tiga kali. Meriam ini digunakan karena bila memakai peluit,
suara peluit tidak akan terdengar oleh peserta lomba. Karena luasnya arena pacu
dan riuh penonton yang menyaksikan perlombaan.
Pada dentuman pertama jalur-jalur yang telah
ditentukan urutannya akan berjejer di garis start dengan anggota setiap regu
telah berada di dalam jalur. Pada dentuman kedua, mereka akan berada dalam
posisi siap (berjaga-jaga) untuk mengayuh dayung. Setelah wasit membunyikan
meriam untuk yang ketiga kalinya, maka setiap regu akan bergegas mendayung melalui
jalur lintasan yang telah ditentukan. Sebagai catatan, ukuran dan kapasitas
jalur serta jumlah peserta pacu dalam lomba ini tidak dipersoalkan, karena ada
anggapan bahwa penentu kemenangan sebuah jalur lebih banyak ditentukan dari
kekuatan magis yang ada pada kayu yang dijadikan jalur dan kekuatan kesaktian
sang pawang dalam "mengendalikan" jalur. Kegiatan Pacu Jalur merupakan pesta rakyat yang terbilang
sangat meriah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Pacu Jalur merupakan
puncak dari seluruh kegiatan, segala upaya, dan segala keringat yang mereka
keluarkan untuk mencari penghidupan selama setahun. Masyarakat Kuantan Singingi
dan sekitamya tumpah ruah menyaksikan acara yang ditunggu-tunggu.
Komentar
Posting Komentar