Sastrawan Riau
1. Suwardi MS
Pada abad ke-21 ini para Generasi
muda, Sastrawan, Budayawan dan Sejarawan Melayu tidak diam begitu saja, mereka
terus berusaha melestarikan budaya Melayu agar tetap berdiri kokoh dengan
budaya yang lain, terlebih lagi karena kondisi sejarah lokal dan budaya Melayu
yang sangat terbuka dengan budaya-budaya lain sehingga terjadi pembaharuan
budaya yang menjadikan nilai-nilai budaya Melayu tidak sama lagi dengan yang
aslinya. Hal inilah yang mengusung beberapa para tokoh sejarawan dan budayawan
muncul untuk tetap terus melestarikan budaya dan sejarah lokal di Provinsi
Riau, yang tidak luput bertemakan melayu. Riau sendiri juga memilki seorang
Sejarawan dan Budayawan yang aktif dalam setiap kegiatannya. Diantara mereka
ada nama Suwardi MS yang mana merupakan seseorang yang dijadikan semacam tempat
untuk menyelesaikan masalah karena pemahamannya yang luas dibidang Budaya
Melayu serta Sejarah Lokal. Sejarawan adalah ahli sejarah atau penulis sejarah,
sementara budayawan adalah orang yang berkecimpung dalam kebudayaan atau
pemikir kebudayaan. Dalam hal ini Suwardi MS dapat mengkombinasikan keduanya
sebagai profesi yang Suwardi MS geluti. Maka dari itu Suwardi MS diangkat
penulis dalam sebuah Biografi. Biografi dipakai sebagai media untuk melancarkan
koreksi terhadap kejadian sosial, politik, etik, dan spiritual. Dalam penulisan
biografi adanya pola perkembangan, kesinambungan cerita, serta gerak dramatis
menuju klimaks. Dalam hal ini penulis memberikan gambaran biografi Suwardi MS
sebagai Sejarawan dan Budayawan Melayu Riau dari perjalanan hidup hingga
kedalam profesi yang digelutinya.
2.
Tenas Effendy
Tenas Effendy pertama kali
menulis tentang kebudayaan pada tahun 1952. Pada saat itu ia masih belajar di
sebuah perguruan di Bengkalis. Ketertarikan dan minatnya terhadap kebudayaan
Melayu tidak terlepas dari keluarganya yang mencintai adat istiadat Melayu,
neneknya adalah seorang pembaca syair yang terkenal pada masanya. Selain pandai
membaca syair, neneknya juga pandai dalam menenun, menekat pakaian-pakaian
tradisional kerajaan Melayu di Pelalawan.
Menyadari bahwa kekayaan
khazanah kebudayaan Melayu begitu berlimpah dan masih terlalu banyak yang belum
dapat dikumpulkannya, ia mendirikan Tenas Effendy Foundation, sebuah lembaga
yang berusaha memberi bantuan pada para peneliti atau siapapun yang berminat
melakukan penelitian terhadap berbagai aspek kebudayaan Melayu. Hasil usahanya
dalam rentang waktu tersebut, antara lain, setumpuk buku yang diterbitkan di
dalam dan luar negeri. Sampai kini, Tenas sedikitnya telah menulis 70-an buku
dan ratusan makalah yang dibawakan dalam berbagai pertemuan budaya di dalam dan
di luar negeri, seperti Belanda, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura,
Thailand adalah beberapa negara yang kerap mengundangnya untuk berceramah disana.
Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, mengundangnya sebagai penulis tamu.
Ia tidak sekadar ditempatkan
sebagai budayawan yang mumpuni, tokoh adat yang kharismatik, tetapi juga kerap
mengundangnya dalam kaitannya dengan kebijakan yang akan disusun dan dijalankan
pemda. Tidak jarang pula, Tenas terpaksa harus menyelesaikan
persoalan-persoalan kemasyarakatan. Sebagai tokoh masyarakat, Pak Tenas
panggilan akrabnya terlibat pula dalam berbagai aktivitas organisasi
kemasyarakatan, baik sebagai ketua, penasihat, maupun pengurus. Yang dilakukan
Tenas Effendy tidak sekadar mengumpulkan dan mendokumentasikan segala yang
berkaitan dengan khazanah kesusastraan Melayu tapi juga memunculkan kesadaran
bahwa kesusastraan adalah salah satu bagian dari sebuah mesin raksasa yang
bernama kebudayaan. Sambil mencoba menafsirkan dan memaknai kandungan filosofis
di balik khazanah kesusastraan Melayu, ia juga menerjemahkan dan membuka tabir
makna berbagai benda budaya.
3. Idrus Tintin
Kiprah
Idrus Tintin di bidang seni drama dimulai ketika bergabung dengan seniman muda
Indonesia (SEMI) di Rengat. Begitulah, Idrus Tintin juga pernah bergabung
dengan seniman tetater di Tanjungpinang. Bahkan sempat membuat sanggar teater
“Gurinda” di Tarempa.
Sepanjang
karirnya, Idrus Tintin perna bergabung dengan TNI sebagai staff Q Brigadir DD
Angkatan Darat di Tanjungpinang. Ia juga perna menjadi pegawai negeri bahkan
sempat menjadi Kepala Kantor Sosial Kewedanaan Pulau Tujuh, Kepri.
Idrus
Tintin mulai mengenal teater kontemporer ketia seniman beradah Kuansing ini
hijrah ke ibu kota Jakarta. Ia sempat berlatih sebuah pementasan berjudul
“Kereta Kencana” di tempat Motinggo Busye. Dari Jakarta Ia hijrah lagi ke Solo
dan Surabaya untuk menimba ilmu teater.
Selama
berada di Pulau Jawa inilah Idrus Tintin berkenalan dengan sejumlan seniman
besar seprti Asrul Sani, Rendra, B Jayakesuma, Soekarno M.Noor, Ismet M Noor,
Teguh Karya, Chairul Umam dan sejumlah seniman lainnya. Pertemuan ini pula yang
menjadi titik tolak Idrus Tintin mengenal teater kontemporer.
Sebagai
sosok seniman dan budayawan Idrus Tintin telah banyak melahirkan karya baik
puisi maupun karya drama yang sebagian besar telah dipentaskan. Senian berdarah
Kuansing ini meninggal dunia 14 Juli 2003 di Pekanbaru.
Namanya
kini diabadikan sebagai nama anjungan seni Riau di Pekanbaru. Itulah
Idrus Tintin seniman besar Riau berdara Kuansing.
4. Raja
Ali Haji
Raja Ali Haji adalah seorang pujangga Melayu yang dikenal
dengan karyanya yaitu Gurindam Dua Belas. Di mana untuk tersebut memiliki ciri
khas yakni tentang sastra Islam dan Melayu. Selain itu, ia pun sangat
bersungguh sungguh untuk menyajikan sejarah dari masa lalu yang disesuaikan
dengan tuntutan pada kondisi di jamannya. Karya-karya tulisannya
telah dipublikasikan dalam bentuk buku, kamus, dan kumpulan surat-surat. Hampir
setiap karyanya dikaji oleh berbagai kalangan. Karyanya merupakan warisan
intelektual yang berharga bagi masyarakat Melayu khususnya dan dunia pada
umumnya.
Sebagai penyair yang menciptakan Gurindam Dua
Belas yang banyak dikaji dan diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi,
karyanya itulah yang menjadi inspirasi pemerintah daerah setempat semboyan kota
Gurindam Negeri Pantun kepada ibukota Provinsi Kepulauan Riau, yaitu kota
Tanjungpinang. Pembacaan Syair Gurindam Dua Belas menjadi suatu seni yang
popular di sana. Suatu syair Melayu yang diciptakan Raja Ali Haji pada tahun
1847 Masehi. Sebelum Raja Ali Haji menciptakannya, 'gurindam' adalah bukanlah
bentuk puisi yang dikenal luas dalam tradisi Melayu. Kata gurindam dikenal
sebagai suatu bentuk kemahiran tuturan bersajak, sebagaimana tersirat dalam
sejumlah sastra lisan Melayu.
Melalui karya-karyanya, para pakar berpendapat bahwa beliau
memiliki latar belakang intelektual yang luar biasa dalam membina dan
mengembangkan bahasa Melayu. Hal itu didukung pula oleh lingkungan hidup Raja
Ali Haji yang berada di pusat istana kerajaan dan juga menjadi tempat para
pujangga Melayu lainnya berbagi akan pemikirannya.
5. Sutardji
Calzoum Bachri
Proses
kreatifnya dimulai sejak mahasiswa saat berumur 25 tahun. Dia mengirimkan
sajak-sajak dan esainya ke surat kabar dan mingguan di Bandung, dan di Jakarta,
seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, Pikiran Rakyat, Haluan, Horison,
dan Budaya Jaya. Pada tahun 1971, sajaknya berjudul "O" yang
merupakan kumpulan puisinya yang pertama, muncul di majalah sastra Horison.
Pada tahun berikutnya, di majalah yang sama, karyanya berjudul "Amuk"
kembali dimuat. Sutardji di kemudian hari dikenal dengan "Kredo Puisi"
yang menarik perhatian dunia sastra di Indonesia. Dia berpendapat bahwa
kata-kata bukan sekadar sarana untuk menyampaikan pengertian karena menurutnya,
kata-kata itu sendiri adalah pengertian. Dia berpikir bahwa kata-kata itu harus
terbebas dari penjajahan pengertian dan dari beban ide, serta penjajahan
gramatika dan tabu bahasa. Jadi, kata-kata itu harus bebas menentukan dirinya.
Dengan demikian, menurut Sutardji, penyair harus memberikan kebebasan
seluas-luasnya kepada kata-kata agar kata-kata dapat mewujudkan diri sendiri
dan menciptakan dunia pengertiannya sendiri. Kata-kata dalam sajak-sajak
Sutardji dapat ditulis sungsang, dipotong, atau dibalik susunannya. Menurut
Sutardji, menulis puisi itu ialah membebaskan kata-kata dan itu berarti
mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata dan kata pertama
adalah mantra. Dengan demikian, menulis puisi baginya adalah mengembalikan kata
kepada mantra. Sutardji merupakan salah satu pelopor sastrawan angkatan
1970-an. Puisi-puisinya dipandang para pakar sebagai karya yang membawa nafas
baru dalam dunia perpuisian Indonesia. Selain itu, Sutardji juga dikenal
sebagai pembaca puisi yang unik, ia sering tampil membacakan puisi di atas
panggung. Dalam berpuisi, ide atau opini dalam sajak-sajak yang disampaikan
tidak hanya berupa isi pikiran, tetapi juga menyangkut suasana batin dan
naluri. Di samping itu, puisi yang dibacakan mudah dicerna oleh para
pendengarnya.
6. Ediruslan Pe Amanriza
Pada
tanggal 3 Okotober 2001, Ediruslan Pe Amanriza, budayawan Riau itu
menghembuskan nafas terakhirnya. Puisinya berjudul ‘Berpisah Jua Akhirnya Kita
Jakarta’, dibacakan ketika jenazah beliau disemayamkan di Dewan Kesenian Riau,
Bandar Seni Raja Ali Haji. Hadirin yang menyaksikan peristiwa itu, tak mampu
membendung air mata. Bukan sedih berpisah dengan Jakarta, tapi sedih
menyaksikan sesosok tubuh kaku yang terbaring di hadapan mereka. Sosok seniman
aktif memperjuangkan kesenian di Riau ini telah pergi mendahului.
Ediruslan Pe Amanriza lahir di Bagansiapi-api,
pada tanggal 17 Agustus 1947. Semasa hidupnya, selain menulis karya sastra,
beliau juga dikenal seorang tokoh teater di Riau. Sebagai seorang seniman,
beliau juga memperjuangkan nasib para seniman dengan menjadi (PLT) Ketua Umum
Dewan Kesenian Riau (DKR) masa khidmat 1998-2003. Pada 2001 beliau terpilih
menjadi Ketua Umum DKR untuk masa khidmat 2001-2006. Namun belum genap setahun
beliau menjabat Ketua Umum DKR, beliau telah kembali kepada Tuhan Sang
Pencipta. Jasa beliau jugalah, aktivitas kebudayaan dan kesenian menempati
Purna MTQ dan berinama Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai).
Banyak buku yang telah dihasilkan
oleh Ediruslan Pe Amanriza, baik itu karya sastra maupun esei-esei budaya.
Ediruslan juga dikenal dikalangan jurnalistik. Menjadi wartawan baik untuk
media yang terbit di Jakarta maupun di daerah. Dengan semangat tinggi di bidang
jurnalitik, beliau mendirikan beberapa tabloid dan tabloid yang masih eksis
sampai sekarang hasil sentuhan pemikirannya adalah Tabloid Azam.
Di bidang politik, Ediruslan
pernah menjadi pengurus Partai Golkar dan pada tahun 1999, beliau terpilih
menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Riau. Di bidang pendidikan,
Beliau pernah menjadi dosen di Fakultas Sastra, sekarang Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Lancang Kuning. Beliau juga tidak pernah berhenti menyemangati
generasi muda untuk terus berkarya di bidang seni.
Komentar
Posting Komentar