SULTAN SYARIF KASIM DAN ISTRI

 


Yang Dipertuan Besar As-Sayyidi Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin adalah sultan ke-11 dari Kesultanan Siak Sri Inderapura dan rantau jajahannya. Ia dinobatkan pada tanggal 25 Oktober 1889, dan bertahta selama 19 tahun, yaitu antara 1889-1908. Ia bergelar Sayyid, sebab ia adalah keturunan dari Sayyid Ali bin Utsman bin Abdurrahman, atau gelarnya Sultan Ali Abdul Jalil Saifuddin, yaitu sultan pertama dari keturunan Arab dan keluarga kerajaan Melayu Siak Sultan Syarif Hasyim dinobatkan menjadi penguasa sebagai pengganti ayahnya, Sultan Syarif Kasim I. Ia sebenarnya bukanlah putra yang tertua, namun saudara-saudaranya yaitu Tengku Muda dan Tengku Bagus melakukan perlawanan kepada Belanda, sehingga mereka ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Bengkalis, Riau. Beberapa saudara lainnya adalah Tengku Embung, Tengku Tanudi, Tengku Hasyim, Tengku Mah Bungsu dan Tengku Anum.

    Pada  masa  kekuasaan  Syarif  Hasyim,  Kesultanan  Siak  Sri  Inderapura  berkembang kemakmurannya, dengan wilayah yang terbentang sejak Langkat hingga Jambi. Syarif Hasyim melakukan perubahan sistem pemerintahan kesultanan, menjadi sistem pemerintahan  konstitusional, dengan  menyusun  kitab  undang-undang  dasar  tertulis Kesultanan Siak Sri Indrapura, yang diberinya nama Babul Qawa'id (bahasa Arab, artinya 'pintu segala pegangan'), atau disingkat Al-Qawa'id saja. Dalam sistem tatanegara dalam kitab tersebut,  Sultan Siak  menjadi  pemangku  tertinggi kekuasaan,  yang dibantu  oleh para pejabat kesultanan yang memimpin berbagai lembaga di pusat maupun daerah, serta dibahas pula tentang hukum adat-istiadat Kesultanan Siak.

        Undang-undang setebal 90 halaman tersebut juga mengatur tentang hukum yang dikenakan terhadap orang Melayu serta bangsa-bangsa lain yang berhubungan dengan orang Melayu di Siak, serta bagaimana menegakkan hukum melalui proses pengadilan kesultanan atau pengadilan Belanda. Sultan  Syarif  juga  membangun  istana  kerajaan  di  hulu  Sungai  Siak,  yang  dinamakan Istana Asserayyah Alhasyimiyah atau disebut juga Istana Matahari Timur. Istana tersebut dibangun dengan gaya arsitektur campuran Eropa, Arab, dan Melayu. Sultan juga menjalin hubungan dengan luar negeri, bahkan melakukan lawatan ke Eropa pada tahun 1896.

    Syarif Hasyim menikah dengan Tengku Jok, dan memiliki anak yang kelak menggantikan kedudukannya, yaitu Syarif Kasim II. Selain itu, Syarif Hasyim juga menikah dengan seorang istri lainnya, dan memiliki anak Tengku Long Putih. Syarif Hasyim wafat di Singapura pada tahun 1908, dan dimakamkan di Kota Tinggi, Siak Sri Indrapura.Anaknya, Syarif Kasim II, naik tahta menggantikannya pada tahun 1915. Saat ini, nama sultan juga diabadikan sebagai nama taman hutan raya di Provinsi Riau, yaitu Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim

 

ISTRINYA (SYARIFAH LATIFAH)

    Syarifah Latifah yang disunting Sultan Syarif Kasim II pada 27 Oktober 1912. Sultan sangat mendukung cita-cita mulia sang permaisuri yang ingin membangun sekolah khusus perempuan di lingkungan Kesultanan Siak Sri Inderapura dan sekitarnya. Jalan hidup Kartini dengan Syarifah Latifah pun hampir mirip. Kartini wafat tidak lama setelah mengelola sekolahnya itu, yakni pada 17 September 1904, usai melahirkan. Dengan kata lain, Kartini hanya sempat mendidik langsung anak-anak perempuan yang menjadi muridnya kurang dari setahun. Adapun nasib Syarifah Latifah nyaris serupa. Ia mulai membuka sekolah keterampilan untuk anak-anak perempuan dan remaja putri di Siak antara tahun 1926 atau 1928. Namun, Syarifah Latifah terlalu cepat meninggal dunia karena sakit, yakni pada 3 Maret 1929. Meskipun relatif singkat dalam melakoni kiprah sebagai pendidik anak-anak perempuan, Kartini dan Syarifah Latifah setidaknya telah memiliki gagasan yang melebihi zamannya. Gagasan yang seringkali dianggap masih tabu kala itu, yakni upaya untuk meningkatkan derajat kaum perempuan.

         Suatu kali, Sultan Syarif Kasim II mendapat panggilan untuk menghadap Residen Sumatera Timur (sebagian wilayahnya kini termasuk dalam Provinsi Sumatera Utara). Penguasa Kesultanan Siak Sri Inderapura itu mengajak Syarifah Latifah turut serta melawat ke Medan. Di  Medan,  pusat  administrasi Karesidenan  Sumatera  Timur  kala  itu,  Syarifah  Latifah terbengong. Ia takjub melihat Kota Medan yang sudah begitu modern. Banyak wanita yang berprofesi selayaknya kaum lelaki, misalnya dengan bekerja di kantor pemerintahan. Tidak seperti perempuan di Siak yang hanya bertugas di dapur dan melayani suami sepenuhnya.

        Seperti dikutip dari buku Sultan Syarif Kasim II: Raja Terakhir Kerajaan Siak Sri Indrapura (1992: 169) karya Ahmad Yusuf, para perempuan yang mengisi dunia kerja laki-laki juga Syarifah Latifah temui ketika turut mendampingi suaminya dalam kunjungan ke Langkat (kini termasuk wilayah Sumatera Utara) dan Tanjungpura (Kalimantan Barat). Syarifah Latifah lantas berpikir. Wanita memang seharusnya sejajar dengan pria kendati tidak lantas melupakan kodratnya. Untuk mencapai tingkat itu, maka perempuan harus pintar. Supaya bisa pintar, maka perempuan harus mendapat pendidikan yang baik, jika perlu sejak usia dini. Dan agar tercipta suasana edukasi seperti yang diharapkan, maka sudah sewajibnya ada sekolah khusus untuk perempuan di Siak.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

IKAN GULAI BAUNG KUNING

SISTEM KESENIAN SUKU TALANG MAMAK

PAKAIAN ADAT INDRAGIRI HULU